jump to navigation

Malaikat di Bros (101 Cara Menggunakan Barometer) Mei 2, 2009

Posted by marcadian in Nice Stuff.
trackback

Cerita bagus yang gua baca waktu ke Sweden dari Chicken Soup.

 

Beberapa waktu yang lalu aku menerima telepon dari seorang kolega, yang bertanya apakah aku mau menjadi wasit pada penilaian suatu pertanyaan ujian. Ia hendak memberi nol pada jawaban seorang mahasiswa untuk suatu pertanyaan fisika, sementara mahasiswa itu mengklaim ia seharusnya menerima nilai penuh itu andai saja sistem pendidikan tidak disusun menentang mahasiswa. Si dosen dan mahasiswa sepakat untuk mencari hakim yang tak memihak, dan aku terpilih.

Aku datang ke kantor kolegaku dan membaca pertanyaan ujian: “Uraikan cara menentukan ketinggian suatu gedung tinggi dengan bantuan barometer.”

Mahasiswa itu menjawab: “Bawa barometer itu ke puncak gedung, ikatkan pada tali yang panjang, turunkan ke jalan, lalu tarik kembali ke atas, ukur panjang talinya. Panjang tali adalah tinggi gedung itu.”

Aku menyatakan bahwa kedudukan si mahasiswa memang kuat untuk mendapat nilai penuh karena ia benar-benar menjawab pertanyaan dengan lengkap dan benar. Di lain pihak, jika nilai penuh diberikan, ini bisa memberikannya nilai tinggi di mta kuliah fisika. Nilai tinggi seharusnya menyatakan kemampuan mahasiswa dalam ilmu fisika, tetapi jawaban tersebut tidak mengkonfirmasi hal ini. Aku menyarankan si mahasiswa mencoba lagi menjawab pertanyaan itu. Aku tidak terkejut saat kolegaku setuju, tapi aku kaget saat mahasiswa itu setuju.

Aku memberi si mahsiswa enam menit untuk menjawab pertanyaan itu, dengan peringatan bahwa jawabannya harus menunjukkan pengetahuan tentang fisika, Pada akhir lima menit, ia masih belum menulis apa-apa. Aku bertanya apakah ia ingin menyerah saja, tapi ia menjawab tidak. Ia punya banyak jawaban untuk masalah ini; ia hanya memikirkan mana yang terbaik. AKu minta maaf karena mengganggunya dan memintanya melanjutkan. Pada menit berikutnya dengan cepat ia menuliskan jawabannya yang berbunyi: “Bawa barometer ke puncak gedung, condongkan tubuh ke depan di sisi gedung. Jatuhkan barometer, ukur waktu jatuhnya dengan stopwatch. Lalu, menggunakan rumus S = 1/2 AT2,  hitung tinggi gedung.”

Pada saat ini, aku bertanya pada kolegaku apakah ia akan menyerah. Ia mengaku kalah, dan memberi mahasiswa nilai hampir penuh.

Saat meninggalkan kantor kolegaku, aku ingat mahasiswa itu berkata ia punya jawaban lain untuk pertanyaan itu, jadi aku menanyakan apa saja.

“Yah,” kata si mahasiswa, “ada banyak cara menghitung ketinggian gedung dengan bantuan barometer. Misalnya, kita bisa membawa barometer keluar di hari yang cerah, ukur tinggi barometer, panjang bayangan, dan panjang bayangan gedung, dan dengan menggunakan aturan proporsi sederhana, hitung ketinggian gedung.”

“Bagus,” kataku, “yang lainnya?”
“Ada,” kata si mahasiswa, “Ada metode pengukuran yang sangat mendasar yang pasti Bapak sukai. Dalam metode ini, kita membawa barometer dan mulai mendaki tangga, kita menandai panjang barometer di dinding. Lalu kita hitung jumlah tanda, dan ini akan memberikan tinggi gedung, dalam satuan barometer. Metode yang sangat langsung.

“Tentu saja, kalau ingin metode yang lebih canggih, kita bisa mengikat barometer ke ujung tali, ayunkan seperti pendulum, dan tentukan nilai g di atas jalan dan pada puncak gedung. Dari perbedaan kedua nilai g itu, pada prinsipnya, tinggi gedung bisa dihitung.

Dengan pendekatan yang sama, kita bisa membawa barometer ke puncak gedung, ikatkan pada tali yang panjang, turunkan hingga tepat di atas jalan lalu mengayunkannya sebagai pendulum. Lalu kita dapat menghitung tinggi bayangan menggunakan periode ayunan.

“Akhirnya, ada banyak cara menyelesaikan pertanyaan ini,” ia menyimpulkan. “Mungkin yang terbaik adalah membawa barometer ke ruang bawah tanah, dan ketuk pintu si pengelola gedung, Saat si pengelola gedung membuka pintu, bicaralah seperti ini: ‘Pak, ini ada barometer yang bagus. Kalau Bapak bisa menyebutkan tinggi bangunan ini, barometer ini akan saya berikan kepada Bapak.’”

Pada saat ini, aku menanyakan pada si mahasiswa apakah ia benar-benar tidak tahu jawaban konvensional untuk pertanyaan ini. Ia mengaku sebenarnya ia tahu, tapi ia sudah bosan, para dosen mencoba mendiktekan cara berpikir kepadanya.

Komentar»

1. pieceofsky - Mei 2, 2009

nice…

2. suhendry - Mei 2, 2009

boring…

3. Kurniady - Mei 3, 2009

dah pernah baca hehehe…

-Kurniady

4. evanlr - Mei 23, 2009

Ini ceritanya Bohr kan ?